Aksi Serentak Empat Wilayah, Jalan Trans Sulawesi Luwu Raya Lumpuh Total

    Aksi Serentak Empat Wilayah, Jalan Trans Sulawesi Luwu Raya Lumpuh Total
    Massa aksi dari berbagai elemen masyarakat memblokade jalan utama dengan cara membakar ban, menebang pohon berukuran besar, hingga melakukan pengecoran fondasi melintang di badan jalan.

    LUWU– Aksi unjuk rasa serentak yang dilakukan massa dari empat wilayah di Luwu Raya, yakni Kabupaten Luwu Utara, Luwu Timur, Kabupaten Luwu, dan Kota Palopo, mengakibatkan Jalan Trans Sulawesi di wilayah Luwu Raya lumpuh total, Sabtu (24/1/2026).

    Massa aksi dari berbagai elemen masyarakat memblokade jalan utama dengan cara membakar ban, menebang pohon berukuran besar, hingga melakukan pengecoran fondasi melintang di badan jalan. Aksi ini merupakan bentuk tuntutan pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Luwu Raya.

    Di wilayah Walenrang–Lamasi (Walmas), massa menutup akses Jalan Trans Sulawesi dengan membakar ban dan menebang pohon besar sehingga jalan tidak dapat dilalui kendaraan.

    “Provinsi Luwu Raya harus mekar. Bapak Presiden harus melihat kami, mahasiswa dan masyarakat, ” teriak salah satu orator dalam aksi tersebut.

    Massa menilai Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan selama ini tidak adil dalam pemerataan pembangunan di Luwu Raya.

    “Kami melihat banyak ketimpangan pembangunan dan ekonomi. Pemprov Sulsel hanya mengambil hasil bumi, tetapi tidak mengembalikan secara adil kepada masyarakat Luwu Raya, ” ujar orator lainnya.

    Aksi serupa juga terjadi di wilayah Baliase, Kabupaten Luwu Utara. Jenderal Lapangan aksi, Iyan Syah, menegaskan bahwa tuntutan pemekaran Provinsi Luwu Raya merupakan harga mati.

    “Kami ingin wilayah kami dimekarkan menjadi Provinsi Luwu Raya. Ini harga mati. Kami akan menutup akses jalan sampai tuntutan kami dipenuhi, ” tegasnya.

    Ia juga mengaku kecewa terhadap pemerintah pusat yang dinilai belum memberikan kepastian terkait pembentukan Provinsi Luwu Raya.

    “Kesabaran kami sudah habis. Kami sudah terlalu lama menunggu, ” tambahnya.

    Di sekitar Jembatan Baliase, massa membakar ban dan menebang pohon sehingga akses utama penghubung Luwu Utara dan Luwu Timur lumpuh total.

    Sementara itu, di Kecamatan Larompong Selatan, perbatasan Kabupaten Luwu dan Kabupaten Wajo, massa aksi menutup jalan penghubung dengan membakar ban serta memasang palang jalan menggunakan kendaraan.

    Tak hanya itu, dibantu warga setempat, termasuk ibu-ibu, massa secara simbolik memutus akses Jalan Poros Trans Sulawesi di perbatasan Wajo–Luwu dengan mendirikan fondasi batu melintang di badan jalan.

    “Moratorium DOB sudah terlalu lama menutup harapan masyarakat Luwu Raya. Kami menuntut keadilan pembangunan dan pemerataan pelayanan publik, ” lantang salah satu orator, Rizal.

    Ia menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah pusat.

    “Kami tidak anarkis. Ini aksi simbolik. Fondasi ini melambangkan dasar perjuangan kami. Jika daerah lain bisa dimekarkan, mengapa Luwu Raya terus ditunda?” tegasnya.

    Massa menyatakan akan terus mengawal perjuangan pemekaran Provinsi Luwu Raya hingga mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat.

    Sumber: Rindhu Brizicck/fb

    luwu raya sulsel
    Muh Hasyim Hanis, SE, S.Pd, C.L.E

    Muh Hasyim Hanis, SE, S.Pd, C.L.E

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Rancangan UU Disinformasi Ancaman Kebebasan Berekspresi?
    PA3KN DPR Gelar Workshop Penulisan Karya Ilmiah Kebijakan untuk Penguatan Analisis APBN
    Putusan Pengadilan Terhadap Mantan Ibu Negara Korsel Terkait Kasus Dugaan Korupsi Segera Dibacakan
    Thomas Djiwandono Deputi Gubernur BI, Said Abdullah: Publik Tak Perlu Khawatir
    Gubernur Lemhannas: Fondasi Generasi Hebat Dibangun Dari Keluarga

    Ikuti Kami